Sewaktu RA Kartini dilahirkan, ayahnya masih berkedudukan sebagai Wedono Mayong, sedangkan ibunya adalah seorang wanita berasal dari desa Teuk Awur yaitu Mas Ajeng Ngasirah yang berstatus garwo Ampil. RMAA Sosroningrat dan urutan keempat dari ibu kandung Mas Ajeng Ngasirah, sedangkan eyang RA Kartini dari pihak ibunya adalah seorang Ulama Besar pada jaman itu bernama Kyai Haji Modirono dan Hajjah Siti Aminah. Istri kedua ayahnya yang berstatus garwo padmi adalah putrid bangsawan yang dikawini pada tahun 1875 keturunan langsung bangsawan tinggi madura yaitu raden ajeng Woeryan anak dari RAA Tjitrowikromo yang memegang jabatan Bupati Jepara sebelum RMAA Sosroningrat. Perkawinan dari kedua istrinya itu telah membuahkan putera sebanyak 11 (sebelas) orang.
Mula pertama udara segar yang dihirup RA KArtini adalah udara desa yaitu sebuah desa di Mayong yang terletak 22 km sebelum masuk jantung kota Jepara. Disinilah ia dilahirkan oleh seorang ibu dari kalangan rakyat biasa yang dijadikan garwo ampil oleh wedono Mayong RMAA Sosroningrat. Anak yang lahir itu adalah seorang bocah kecil dengan mata bulat berbinar-binar memancarkan cahaya cemerlang seolah menatap masa depan yang penuh tantangan.
Hari demi hari beliau tumbuh dalam suasana gembira, dia ingin bergerak bebas, berlari kian kemari, hal yang menarik baginya ia lakukan meskipun dilarang. Karena kebebasan dan kegesitannya bergerak ia mendapat julukan “TRINIL” dari ayahnya. Kemudian setelah kelahiran RA Kartini yaitu pada tahun 1880 lahirlah adiknya RA Roekmini dari garwo padmi. Pada tahun 1881 RMAA Sosroningrat diangkat sebagai Bupati Jepara dan beliau bersama keluarganya pindah ke rumah dinas Kabupaten di Jepara.
Pada tahun yang sama lahir pula adiknya yang diberi nama RA Kardinah sehingga si trinil senang dan genbira dengan kedua adiknya sebagai teman bermain. Lingkungan Pendopo Kabupaten yang luas lagi megah itu semakin memberikan kesempatan bagi kebebasan dan kegesitan setiap langkah RA Kartini.
Sifat serba ingin tahu RA Kartini inilah yang mrnjadikan orang tuanya semakin memperhatikan perkembangan jiwanya. Memang sejak semula RA Kartini paling cerdas dan penuh inisiatif dibandingkan dengan saudara perempuan lainnya. Dengan sifat kepemimpinan RA Kartini yang menyolok, jarang terjadi perselisihan diantara mereka bertiga yang dikenal dengan nama “TIGA SERANGKAI” meskipun dia agak diistimewakan dari yang lain.
Agar puterinya lebih mengenal daerah dan rakyatnya RMAA Sosroningrat sering mengajak ketiga puterinya tourney dengan menaiki kereta.
Ini semua hanya merupakan pendekatan secara terarah agar puterinya kelak akan mencintai rakyat dan bangsanya, sehingga apa yang dilihatnya dapat tertanam dalam ingatan RA Kartini danadik-adiknya serta dapat mempengaruhi pandangan hidupnya setelah dewasa.
Saat mulai menginjak bangku sekolah “EUROPESE LAGERE SCHOOL” terasa bagi RA Kartini sesuatu yang menggembirakan. Karena sifat yang ia miliki dan kepandaiannya yang menonjol RA Kartini cepat disenangi teman-temannya. Kecerdasan otaknya dengan mudah dapat menyaingi anak-anak Belanda baik pria maupun wanitanya, dalam bahasa Belanda pun RA Kartini dapat diandalkan.
Menjelang kenaikan kelas di saat liburan pertama, NY. OVINK SOER DAN SUAMINYA MENGAJAK ra Kartini beserta adik-adiknya Roekmini dan Kardinah menikmati keindahan pantai bandengan yang letaknya 7 km ke Utara Kota Jepara, yaitu sebuah pantai yang indah dengan hamparan pasir putih yang memukau sebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya Stella di negeri Belanda. RA Kartini dan kedua adiknya mengikuti Ny. Ovink Soer mencari kerang sambil berkejaran menghindari ombak, kepada RA Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu pantai Bandengan.
Kemudian Ny. Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland pun ada sebuah pantai yang hamper sama dengan bandengan namanya “Klein Scheveningen” secara spontan mendengar itu RA Kartini menyela……..kalau begitu kita sebut saja pantai bandengan ini dengan nama Klein Scheveningen”.
Selang beberapa tahun kemudian setelah selesai pendidikan di EUROPASE LEGERE SCHOOL, RA Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di hati RA Kartini karena terbentur pada aturan adapt apalagi bagi kaum ningrat bahwa wanita seperti dia harus menjalani pingitan.
Memang sudah saatnya RA Kartini memasuki masa pingitan karena usianya telah mencapai 12 tahun lebih, ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepada tradisi ia harus berpisah pada dunia luar dan terkurung oleh tembok Kabupaten. Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa RA Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan ada hasilnya, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.
Beliau pernah juga mengajukan lamaran untuk sekolah dengan beasiswa ke negeri Belanda dan ternyata dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda, hanya saja dengan berbagai pertimbangan maka besiswa tersebut diserahkan kepada putera lainnya yang namanya kemudian cukup terkenal yaitu H. Agus Salim.
Walaupun RA Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya, namun himpunan murid-murid pertama Kartini yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi Bumi Putera telah dibina diserambi Pendopo belakang kabupaten. Hari itu sekolah Kartini memasuki pelajaran apa yang kini dikenal dengan istilah Krida dimana RA Kartini sedang menyelesaikan lukisan dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjaan tangan masing-masing, ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian.
Adapun Bupati RMAA Sosroningrat dan Raden Ayu tengah menerima kedatangan tamu utusan yang membawa surat lamaran dari Bupati Rembang Adipati Djojoadiningrat yang sudah dikenal sebagai Bupati yang berpandangan maju dan modern. Tepat tanggal 12 November 1903 RA Kartini melangsungkan pernikannya dengan Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat dengan cara sederhana.
Pada saat kandungan RA Kartini berusia 7 bulan, dalam dirinya dirasakan kerinduan yang amat sangat pada ibunya dan Kota Jepara yang sangat berarti dalam kehidupannya. Suaminya telah berusaha menghiburnya dengan musik gamelan dan tembang-tembang yang menjadi kesayangannya, namun semua itu membuat dirinya lesu.
Pada tanggal 13 September 1904 RA Kartini melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Singgih/RM. Soesalit. Tetapi keadaan RA Kartini semakin memburuk meskipun sudah dilakukan perawatan khusus, dan akhirnya pada tanggal 17 September 1904 RA Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun.
Kini RA Kartini telah tiada, cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penanya semasa hidup yang kita kenal dengan buku “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.
Bila Anda tinggal di Bali, pasti akan merasakan suasana Nyepi yang jarang ditemui di kota lain di Indonesia. Di Bali umat Hindu merayakan Nyepi secara serentak. Nyepi yang identik dengan suasana sepi dan gelap gulita ternyata mempunyai sejarah nya sendiri. Berikut Sejarah Nyepi:
Kita semua tahu bahwa agama Hindu berasal dari India dengan kitab sucinya Weda. Di awal abad masehi bahkan sebelumnya, Negeri India dan wilayah sekitarnya digambarkan selalu mengalami krisis dan konflik sosial berkepanjangan. Pertikaian antar suku-suku bangsa, al. (Suku Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya) menang dan kalah silih berganti. Gelombang perebutan kekuasaan antar suku menyebabkan terombang-ambingnya kehidupan beragama itu. Pola pembinaan kehidupan beragama menjadi beragam, baik karena kepengikutan umat terhadap kelompok-kelompok suku bangsa, maupun karena adanya penafsiran yang saling berbeda terhadap ajaran yang diyakini.
Dan pertikaian yang panjang pada akhirnya suku Saka menjadi pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka
tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi. Dari sini dapat diketahui bahwa peringatan pergantian tarikh saka adalah hari keberhasilan kepemimpinan Raja Kaniskha I menyatukan bangsa yang tadinya bertikai dengan paham keagamaan yang saling berbeda. Sejak tahun 78 Masehi itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun Saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang.
Oleh karena itu peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional. Keberhasilan ini disebar-luaskan keseluruh daratan India dan Asia lainnya bahkan sampal ke Indonesia. Kehadiran Sang Pendeta Saka bergelar Aji Saka tiba di Jawa di Desa Waru Rembang Jawa Tengah tahun 456 Masehi, dimana pengaruh Hindu di Nusantara saat itu telah berumur 4,5 abad. Dinyatakan Sang Aji Saka disamping telah berhasil mensosialisasikan peringatan pergantian tahun saka ini, jüga dan peristiwa yang dialami dua orang punakawan! pengiring atau caraka beliau diriwayatkan lahirnya aksara Jawa onocoroko doto sowolo mogobongo padojoyonyo. Karena Aji Saka diiringi dua orang punakawan yang sama-sama setia, samasama sakti, sama-sama teguh dan sama-sama mati dalam mempertahankan kebenaran demi pengabdiannya kepada Sang Pandita Aji Saka.
Rangkaian peringatan Pergantian Tahun Saka
Peringatan tahun Saka di Indonesia dilakukan dengan cara Nyepi (Sipeng) selama 24 jam dan ada rangkaian acaranya antara lain :
1. Upacara melasti, mekiyis dan melis. Intinya adalah penyucian bhuana alit (diri kita masing-masing) dan bhuana Agung atau alam semesta ini. Dilakukan di sumber air suci kelebutan, campuan, patirtan dan segara. Tapi yang paling banyak dilakukan adalah di segara karena.sekalian untuk nunas tirtha amerta (tirtha yang memberi kehidupan) ngamet sarining amerta ring telenging segara. Dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan).
2. Menghaturkan bhakti/pemujaan di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman, setelah kembali dari mekiyis.
3. Tawur Agung/mecaru di setiap catus pata (perempatan) desa/pemukiman, lambang menjaga keseimbangan. Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit). Dilanjutkan pula dengan acara ngerupuk/mebuu-buu di setiap rumah tangga, guna membersihkan lingkungan dari pengaruh bhutakala. Belakangan acara ngerupuk disertai juga dengan ogoh-ogoh (symbol bhutakala) sebagai kreativitas seni dan gelar budaya serta simbolisasi bhutakala yang akan disomyakan. (Namun terkadang sifat bhutanya masih tersisa pada orangnya).
4. Nyepi (Sipeng) dilakukan dengan melaksanakan catur brata penyepian (amati karya, amati geni, amati lelungan dan amati lelanguan).
5. Ngembak Geni. Mulai dengan aktivitas baru yang didahului dengan mesima krama di lingkungan keluarga, warga terdekat (tetangga) dan dalam ruang yang lebih luas diadakan acara Dharma Santi seperti saat ini.
Yadnya dilaksanakan karena kita ingin mencapai kebenaran. Dalam Yajur Weda XIX. 30 dinyatakan : Pratena diksam apnoti, diksaya apnoti daksina. Daksina sradham apnoti, sraddhaya satyam apyate.
Artinya : Melalui pengabdian/yadnya kita memperoleh kesucian, dengan kesucian kita mendapat kemuliaan. Dengan kemuliaan kita mendapat kehormatan, dan dengan kehormatan kita memperoleh kebenaran.
Sesungguhnya seluruh rangkaian Nyepi dalam rangka memperingati pergantian tahun baru saka itu adalah sebuah dialog spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu agar kehidupan ini selalu seimbang dan harmonis serta sejahtera dan damai. Mekiyis dan nyejer/ngaturang bakti di Balai Agung adalah dialog spiritual manusia dengan alam dan Tuhan Yang Maha Esa, dengan segala manifetasi-Nya serta para leluhur yang telah disucikan. Tawur Agung dengan segala rangkaiannya adalah dialog spiritual manusia dengan alam sekitar para bhuta demi keseimbangan bhuana agung bhuana alit.
Pelaksanaan catur brata penyepian merupakan dialog spiritual antara din sejati (Sang Atma) seseorang umat dengan sang pendipta (Paramatma) Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam din manusia ada sang din /atrnn (si Dia) yang bersumber dan sang Pencipta Paramatma (Beliau Tuhan Yang Maha Esa).
Sima krama atau dharma Santi adalah dialog antar sesama tentang apa dan bagaimana yang sudah, dan yang sekarang serta yang akan datang. Bagaimana kita dapat meningkatkan kehidupan lahir batin kita ke depan dengan berpijak pada pengalaman selama ini. Maka dengan peringatan pergantian tahun baru saka (Nyepi) umat telah melakukan dialog spiritual kepada semua pihak dengan Tuhan yang dipuja, para leluhur, dengan para bhuta, dengan diri sendiri dan sesama manusia demi keseimbangan, keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian bersama. Namun patut juga diakui bahwa setiap hari suci keagamaan seperti Nyepi tahun 2009 ini, ada saja godaannya. Baik karena sisa-sisa bhutakalanya, sisa mabuknya, dijadikan kesempatan memunculkan dendam lama atau tindakan yang lain. Dunia nyata ini memang dikuasai oleh hukum Rwa Bhineda. Baik-buruk, menang-kalah, kaya-miskin, sengsara-bahagia dst. Manusia berada di antara itu dan manusia diuji untuk mengendalikan diri di antara dua hal yang saling berbeda bahkan saling berlawanan.
Kalau dituang dalam sebuah pantun boleh jadi sbb.:
Dengan bunga membuat yadnya,
melasti bersama pergi ke pantai.
Jika agama hanya wacana, kondisi
sejahtera - aman damai susah dicapai.
Maka agama harus dimengerti,
dipahami, dilaksanakan atau
diamalkan dengan baik dan benar.
Dharma Santi
Adapun Dharma Santi sebagai rangkaian akhir Nyepi merupakan hal yang wajib dilaksanakan, baik di lingkungan keluarga, warga dekat maupun warga bangsa. Dengan Dharma Santi kita dapat saling memaafkan jika ada kesalahan atau kekeliruan yang pernah terjadi setidak-tidaknya dalam jangka waktu satu tahun sebelumnya. Di samping itu juga untuk berbincang-bincang perihal kehidupan bersama kita ke depan karena kondisi yang dihadapi akan semakin sulit dan semakin komplek, serba multi; multi etnis, multi dimensi, multi kepentingan, multi karakter dan multi kultural. Oleh karena itu dharma Santi dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja setelah Nyepi asal tidak lewat dari waktu kurang lebih sebulan sesudah Nyepi. Sangat baik kalau setiap habis hari raya keagamaan (bukan hanya pada Nyepi saja) diikuti dengan dharma Santi atau sima krama, atau secara spiritual sering juga dilakukan jika ada upacara piodalan di Pura dengan “meprani”. Mesima krama, meprani atau dharma Santi merupakan ajang berdialog antar sesama tentang berbagai aspek kehidupan. Karena Weda menyatakan “Wasudewa kutumbakan” (seluruh dunia adalah bersaudana). Atau sarwa asa mama mitram bhawantu (Jadikanlah seluruh penjuru dunia sebagai sahabat kami).
Untuk skup Bali, hal ini analog dengan konsep menyama braya yang perlu dimantapkan melalui dharma Santi. Jadi pergantian Tahun Saka adalah peringatan dari kebangkitan dan pembaharuan. Nyepi adalah renungan kesadaran untuk pengendalian diri. Dharma santi adalah dialog sesama demi keseimbangan hidup lahir bathin. Demikian yang dapat disampaikan, semoga ada manfaatnya. Mohon maaf atas kekuragannya. “Selamat Hari Raya Nyepi tahun Baru saka 1931, “Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa Asung kerta Wara nugraha kepada kita sekalian agar kita Santi, dapat meningkatkan bhakti sadana menuju Jagadhita yaitu dunia sejahtera. Om Ano bhadrah kratawo yantu wiswatah (semoga semua pikiran yang baik datang dari segala arah penjuru).
Selamat hari Nyepi, bagi yang merayakannya...
Ref.: Berbagai Media Elektronik.
Asal-usul perayaan Tahun Baru Cina terlalu tua dan lama untuk dikaji. Walau bagaimanapun, pendapat umum mengatakan, perkatan Cina, ‘Nian’ atau yang bermaksud ‘tahun’ dalam bahasa Melayu, adalah nama untuk raksasa yang sering mencari mangsa pada malam sebelum tahun baru bermula.
Dari kitab-kitab tua berbahasa mandarin, bahwa perayaan tahun baru Imlek bukanlah tradisi sekarang, akan tetapi sudah diwariskan ratusan tahun yang lalu. Dan perayaan itu awalnya dimulai dari daratan Tiongkok, seperti yang ditulis DR Kai Kuok Liang, dalam bukunya berjudul: Festival Tradisi Budaya Tionghoa.
“Memang banyak versi yang menceritakan awal tradisi perayaan tahun baru Imlek, sesuai dengan daerah asalnya, namun yang lebih populer yakni dimulai pada masa Kaisar Chin Che Huang (246-210 BC),” ujar tokoh Tionghoa Pontianak, Lie Sau Fat (XF Asali) pada kemarin di harian lokal yang sempat saya kutip.
Dijelaskan Asali, tahun baru Imlek dirayakan di daratan Tiongkok sudah sejak ribuan tahun yang lalu, bahkan ada versi lain yang menyebutkan sebelum Kaisar Chin Che Huang pun sudah dirayakan, hanya masih belum merata di masyarakat, antara lain pada masa Huang Ti Yu (2698 BC). Hanya pada masa Kaisar Chin Che Huang, sudah merata di masyarakat Tiongkok, dengan semangat persatuan dan kesatuan.
Dan pada masa revolusi Xin-Hai, tanggal 10 Oktober 1911 yang dicetuskan oleh DR Sun Yat Sen, yang terkenal dengan ideologinya San Min Cu I (three principles of the people) yang mengubah perayaan tahun baru imlek menjadi Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek). Bahkan, festival ini resmi ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari besar nasional, yang akan dirayakan setiap tahun. Dan tahun baru imlek dirayakan secara resmi mengikuti tahun baru masehi.
Walaupun sudah dirubah namanya sejak tahun 1911, lantaran perayaan tahun baru Imlek sudah memasyarakat, sudah membudaya ribuan tahun di masyarakat, yang dirayakan turun temurun, sehingga perayaan tahun baru Imlek tetap dilangsungkan. Sementara perayaan tahun baru masehi, tidak semeriah tahun baru Imlek disaat itu.
Dan sampai sekarang pun, perayaan tahun baru Imlek tersebut masih meriah dilaksanakan, termasuk di kalangan masyarakat Tionghoa di daerah ini. Yang saat sekarang sudah mulai terasa persiapan-persiapan perayaan tahun baru Imlek. Kartu-kartu ucapan selamat dengan berbagai model sudah dipajang di toko-toko, termasuk aksesoris lainnya. Hanya untuk buah jeruk bali, masih belum terasa lonjakan perdagangannya, kecuali sepekan menjelang perayaan imlek.
Pergantian tahun kali ini, yang akan memasuki tahun sio naga (emas), sudah bermunculan buku-buku tafsiran peruntungan dalam tahun naga tersebut. Memang, ada beberapa sio di tahun ini yang harus waspada dengan peruntungan yang tidak baik atau tidak menyenangkan. Dan ada juga yang bergembira dengan kedatangan tahun baru ini.
Mercon dan Nian Show
Zaman dahulu setiap akhir tahun, menjelang pergantian tahun tahun baru, akan muncul sejenis binatang buas yang namanya “Nian Show” yang siap memangsa apa saja yang dijumpainya. Bintang ini muncul setahun sekali, persis di akhir tahun, menjelang awal tahun baru Imlek.
Nian Show bermakna (nian) tahun (show) binatang. Dan dalam penanggalan Imlek dilambangkan dengan dua belas jenis binatang, yakni dikenal dengan shio-shio Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, Babi, Tikus, Kerbau, Macan dan Kelinci.
Kembali pada kisah Nian Show yang ditakuti oleh orang-orang zaman dahulu, maka ada sebuah tradisi dalam lingkungan keluarga Tionghoa, yakni menjaga keselamatan keluarga dari ancaman Nian Show. Dimana, pada saat itu, semua pintu dan jendela harus ditutup rapat, sambil menantikan hari maut itu berlalu.
Sehingga banyak warga yang cemas jika menunggu detik-detik akan memasuki tahun baru Imlek, dikhawatirkan Nian Show datang. Pergantian tahun ini juga menjadikan seluruh keluarga berkumpul di rumah, mereka membuat acara di lingkungan keluarga mereka masing-masing.
Namun, kedatangan Nian Show ternyata terhenti, selang beberapa tahun tidak pernah datang lagi. Hal ini membuat rasa takut dan cemas di masyarakat menjadi hilang Masyarakat menjadi leluasa dan bebas merayakan pergantian tahun Imlek dengan bergembira, anak-anak pesta kembang api, dan berbagai ungkapan rasa kegembiraan itu diwujudkan.
Dari tahun ke tahun, Nian Show yang dipercayai menakutkan itu, terkikis dan rakyat pun lega, sampai-sampai tidak ingat lagi dengan budaya menutup pintu dan jendela pada akhir tahun. Bahkan, banyak wargayang pesta maupun mengadakan acara menyambut pergantian tahun yang mereka nantikan itu. Dalam pikiran mereka tidak ada lagi Nian Show.
Memang, Nian Show tidak pernah muncul lagi bahkan sudah hilang rasa takut tersebut. Padahal, jika Nian Show datang, warga tidak tahu dengan kedatangannya tersebut. Dan ia juga tidak dapat diduga. Setelah terlupakan, ternyata Nian Show pernah muncul sekali, dalam suatu perayaan Imlek. “Nian Show mendadak muncul kembali, binatang buas itu dengan serta merta menyerang dan memangsa semua makhlukyang ditemuinya,” jelas XF Asali yang baru-baru ini menyampaikan kisah Imlek tersebut.
Tentu saja kedatangan Nian Show yang secara tiba-tiba itu membuat warga panik dan terkejut. Tak disangka-sangka, ternyata Nian Show yang dikira sudah tidak ada lagi, muncul kembali. Kecuali ada beberapa rumah yang terhindar, karena kebetulan rumah tersebut ada pesta, yang di depan pintunya digantung kain merah, dinding ditempel kertas merah Suang-shi, anggota rumah tersebut berpakaian merah.
Konon, Nian Show itu tidak memangsa mereka yang berpakaian merah tersebut. Bahkan, ada beberapa orang warga yang sedang bermain mercon, terhindar dari mangsa Nian Show, karena mendengar bunyi petasan. Dengan adanya kejadian tersebut, maka dapat disimpulkan Nian Show takut kepadayang berwarna merah dan bunyi petasan.
Sejak itu, demi keselamatan bersama, pada setiap akhir tahun dan menyambut tahun baru, digantung kain merah di depan rumah, digantung lampion merah, di dinding ditempel keratas merah, disertai tulisan dan kalimat puisiyang indah. Demikian juga bunyi petasan-petasan, dimaksud untuk mengusir nian show.
Kabarnya, sekarang ini nian show memang tidak datang, tapi ia tidak menjelma dalam bentuk binatang, tapi dalam bentuk hawa jahat. Karena itu, setiaporang harus dapat menolak hawa jahat tersebut, dengan melakukan sembahyang serta memasang penangkal berupa kain merah, memasang mercun dan berpakaian merah.
Kue keranjang makanan khas Imlek
Tradisi perayaan tahun baru Imlek juga tampak dari hidangan kue yang disajikan. Salah satu ciri khas kue yang cukup populer dimasa perayaan tahun baru Imlek ini yakni kue keranjang bulat. “Keberadaan kue keranjang bulat ini bukan sekadar tradisi begitu saja, akan tetapi ada kisah yang melatar belakangi, mengapa sampai perayaan Imlek itu menghidangkan kue keranjang?” tutur tokoh Tionghoa, XF Asali (Lie Sau Fat)yang saya jumpai beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, dalam kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo (tempat masak) dalam dapur di setiap rumah ada dewa-nyayang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga). Dewa itu juga sering dikenal dengan sebutan Dewa Tungku, yang ditugaskan untuk mengawasi segala tindak tanduk dari setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.
Maka setiap akhir tahun tanggal 24 bulan 12 Imlek (atau h-6 tahun baru), Dewa Tungku akan pulang ke surga serta melaporkan tugasnya kepada Raja Surga. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk memberikan hidangan yang menyenangkan atau hal-hal yang dapat membuat Dewa Tungku tidak murka. Sehingga nantinya, jika ia laporan ke Raja Surga, menyampaikan laporan yang baik-baik dari rakyat yang diawasinya.
Bagaimana caranya supaya Dewa Tungku tidak murka, yang menyampaikan laporan baik-baik saja pada Raja Surga? Akhirnya, warga pun mencari bentuk sajian yang manis, yakni kue yang disajikan dalam keranjang. Maka disebutlah kue keranjang, yang sudah mentradisi setiap tahun disajikan untuk merayakan tahun baru Imlek.
Dalam menyajikan kue untuk Dewa Tungku, kue keranjang yang manis tersebut, juga ditentukan bentuknya yakni harus bulat. Hal ini bermakna, keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat berkumpul (minimal) satu tahun sekali, serta tetap menjadi keluarga yang bersatu, rukun, bulat tekad dalam menghadapi tahunbaru yang akan datang. Tradisi ini pun dibawa terus secara turun temurun, sampai sekarang ini.
Kini, kue keranjang tersebut sudah mulai banyak di pasar, dengan ukuran yang kecil sampai yang besar. Dalam kepercayaan, kue tersebut juga disajikan di depan altar, atau di dekat tempat sembahyang di rumah. Semua ini, disajikan dalam rangka menyambut tahun baru Imlek, yang sekarang ini hanya tinggal beberapa hari lagi. Maka sudah seharusnya, kue keranjang tersebut sudah disajikan, agar Dewa Tungku tidak murka.
Ternyata tradisi kue keranjang ini juga tidak hanya oleh warga Tionghoa merayakan Imlek, hari raya Idul Fitri pun ada umat Islam yang menyuguhkan kue keranjang, yang sudah memasyarakat itu. Artinya, kue tersebut sudah menjadi milik masyarakat luas, yang sudah tidak asing lagi.
Bentuk-bentuknya juga bermacam-macam, dari yang kecil sampai yang besar, namun rasanya yang khas, menjadikan kue keranjang diminati oleh banyak orang. Tak hanya itu, kue keranjang juga dikenal cukup awet dan tahan beberapa hari. Sehingga, dapat disajikan kapan saja. Bahkan, setelah Imlek pun juga masih dapat disajikan.
Makna spiritual Imlek
Perayaan Imlek yang dirayakan oleh berbagai bangsa (China, Jepang, Korea, Vietnam, dan lainnya) selama berabad-abad menyediakan makna spiritual yang amat kaya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan mereka dalam semangat hidup yang sama. Mengingat Imlek bukan perayaan keagamaan, maka “makna spiritual” perayaan Imlek tidak pertama-tama digali dalam ajaran agama tertentu. Semula, Imlek merupakan perayaan petani. Makna spiritual Imlek perlu digali dari pengalaman kehidupan dan dunia makna yang berkembang di antara kaum petani. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang bukan dari golongan petani. Karena itu, tidaklah mencukupi pemaknaan spiritual Imlek hanya dibatasi dari dunia pertanian. Beberapa makna spiritual yang pantas dikedepankan, antara lain: Pertama, kasih sebagai faktor pemersatu kehidupan. Imlek memperlihatkan pengalaman perjumpaan para petani dengan realitas kehidupan yang ada di sekitarnya. Bagi petani, realitas di dunia ini disatukan, disemangati, ditumbuhkan oleh kasih. Karena itu, mereka menemukan dan menggunakan berbagai macam barang, tanaman, atau binatang yang ada di lingkungan mereka untuk menunjukkan pengalaman kasih yang menghidupkan itu. Mereka mengungkapkan harapan kehidupan yang lebih berkualitas dengan menggunakan obyek-obyek itu. Misalnya, ikan dipandang sebagai lambang kelimpahan berkat kasih yang menghidupkan. Dengan memasang gambar ikan atau memakan ikan, mereka mengharap datangnya kelimpahan itu.
Kedua, Imlek merupakan perayaan pengalaman kasih yang membahagiakan dan terbagikan kepada sesama. Bagi petani, kasih yang membahagiakan itu mereka terima dari kemurahan alam. Karena itu, mereka pun harus belajar bermurah hati kepada sesama. Kasih yang membahagiakan itu layak untuk dinikmati dalam kebersamaan dengan yang lain, dalam semangat solider kepada sesama, terutama yang lemah, miskin, dan papa. Warna dasar perayaan Imlek adalah merah, yang berarti kebahagiaan dan semangat hidup. Sebagaimana darah dalam nadi, pengalaman hidup yang penuh semangat dan membahagiakan itu harus mengalir dan meresapi berbagai bagian tubuh untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam perayaan Imlek, dibagikan kepada anak-anak, orang-orang miskin, sederhana, dan papa, hal-hal yang dapat membahagiakan mereka: uang, makanan, hadiah, atau berbagai bentuk bantuan lain. Dengan berbagi kebahagiaan, kasih yang berlimpah itu diharapkan dapat semakin merasuki berbagai sektor kehidupan mereka dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan lebih besar lagi.
Ketiga, pengalaman kasih dimulai di keluarga. Inti kasih itu tidak terletak dalam banyaknya kata-kata, tetapi dalam tindakan untuk saling memberikan diri kepada subyek yang dikasihi. Kemampuan mengasihi seperti ini disadari oleh para petani dan nonpetani, berawal di dalam keluarga. Pusat perayaan Imlek terletak pada kesediaan seluruh anggota keluarga untuk berkumpul bersama, meninggalkan kepentingan diri, dan berbagi pengalaman kasih dalam keluarga. Puncak perayaan itu diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, saling menghormati, bercerita pengalaman hidup yang membahagiakan, mengampuni, berbagi rezeki, menyampaikan salam berupa doa atau harapan untuk hidup lebih baik, dan sebagainya.
Keempat, Imlek adalah perayaan kebebasan yang inklusif. Kesederhanaan alam pikiran petani tidak banyak memberi tempat pada rumitnya aturan yang harus ditaati. Pada dasarnya Imlek tidak memiliki aturan baku. Seandainya ada, peraturan itu amat umum, tidak menyertakan hukuman bagi pelanggarnya. Dengan demikian, dunia tidak mengenal adanya model tunggal perayaan Imlek. Setiap pribadi, keluarga, atau kelompok masyarakat apa pun, diizinkan merayakan Imlek dengan segala kemampuan, keterbatasan, latar belakang, simbol, dan sistem pemaknaan masing-masing. Kebebasan seperti ini menjadikan Imlek perayaan yang inklusif karena tidak mengeliminasi siapa pun untuk tidak diizinkan merayakannya.
Disesuaikan kondisi bangsa Perayaan Imlek yang terlalu mengedepankan sisi glamor dan konsumerisme, mengkhianati makna spiritual yang dijunjung tinggi dalam perayaan Imlek dan akan melukai perasaan banyak orang yang masih hidup dalam kemiskinan. Perayaan semacam itu akan berujung pada eksklusivisme, bukan inklusivitas. Penjiplakan perayaan Imlek dari bangsa lain tanpa memerhatikan suasana batin dan kerohanian yang ada di Indonesia, pada gilirannya dapat menjadi bumerang bagi perkembangan bangsa Indonesia. Sebaliknya, pengaturan ketat terhadap praktik perayaan Imlek atau penekanan satu model Imlek sebagai warisan kebudayaan bangsa tertentu sama-sama mengkhianati nilai kebebasan yang inklusif yang ditawarkan oleh Imlek. Pemahaman mendalam terhadap kekayaan makna spiritual yang terkandung dalam perayaan Imlek diharapkan mampu memberi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk dapat menemukan sendiri model perayaan Imlek yang sesuai nilai-nilai kasih dan kehidupan yang dihayati bangsa Indonesia. Penemuan model perayaan Imlek yang lebih sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia merupakan pekerjaan bersama yang pantas untuk segera dimulai. Semoga hari libur nasional Imlek juga dapat menjadi saat yang reflektif dan kreatif bagi penemuan langkah penyelesaian krisis bangsa Indonesia yang sudah berlangsung lama. Gong xi xin nian. Wan shi ru yi.
Ref.: dari berbagai sumber di media elektronik.
Dan jika berkata, berkatalah kepada aku tentang kebenaran persahabatan?. Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita; Karena yang paling kaukasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati dan gairah segar kehidupan.
kahLil GibRaN
Dari segi fisik, sekolah kami pun tak seperti bangunan sekolah pada umumnya, bangunan ini berdiri di atas tanah kurang lebih 50 X 100 m. ini ditempati oleh 2 lembaga, MA dan MTs, dengan kuota kurang dari 450 siswa. Dari segi pengajar, guru kami pun kebanyakan dari lulusan S1, itupun masih ada sebagian yang lulus dari pesatren. Dari segi teman-teman kami sendiri, lingkup kami sangat terbatas, paling banyak 5 sampai 6 desa dari 3 Kecamatan (Kec. Kalinyamatan, Kec. Bate-alit, dan paling banyak dari Kec. Mayong karena kami berada di Kec Mayong). Seakan tidak ada yang menarik untuk sekolah disini.
Sebagian besar motivasi untuk belajar disini, hanya untuk ajang “dari pada nganggur mending sekolah” bahkan ada yang untuk ajang menunggu jodoh (bagi siswa putri), hanya sedikit siswa yang motivasinya untuk belajar, itupun kebanyakan dari orang yang tak punya, maklum sekolah kami tergolong sekolah paling murah di tingkat kabupaten, bahkan mungkin se-Indonesia.
Tapi sebagian dari kami tak menghiraukan itu, dari banyak keterbatasan itu, kami pun mencoba mencari celah untuk terus maju, kami pun mencoba mengembangkan dari hal organisasi (istilah sekarang Ekstrakulrikuler). Disini kami di gembleng untuk mencoba membongkar pikiran kita, bahwa kamujuan seseorang tidak dipandang dari dimana kita sekolah, seberapa besar sekolah kita, dan mungkin yang lain, tapi kemajuan seseorang tumbuh dari diri kita yang terus ingin untuk maju.
Di sini, setiap hari kami diajak untuk latihan untuk berdisiplin, diajak untuk bermasyarakat, diajak untuk bersosialisasi, diajak untuk berdiskusi, dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang lain. Memang cara yang mereka gunakan, kebanyakan kami tak mengerti maksudnya, kita disuruh LBB yang sangat melelahkan, kami disuruh untuk mandi lumpur saat perkemahan, kami disuruh penyamaran seperti tentara, kami dimaki-maki se-akan kami manjadi orang yang paling bersalah, dan tidak ada benarnya sama sekali. Pokoknya tidak ada yang baik dimata kami. Dan itu berlangsung turun temurun, bahkan hampir setiap acara perkemahan. Bahkan sampai ada yang jera untuk ikut perkemahan (Maklum orang biasa bilang anak mami), tapi ku anggap itu wajar, karena memang sangat melelahkan dan menakutkan.
Sekarang kami baru sadar, bahwa yang diperlakukan kepada kami itu bukan tanpa alasan, mereka (kakak-kakak alumni) melakukan itu, supaya kami tidak menjadi seorang pecundang, agar kami menjadi orang yang berani menghadapi masalah bukannya lari dari masalah, dan dan mereka berharap dengan itu kami bisa mengabdi kepada lembaga.
Berkat kegiatan ekstra tersebut kami pun bisa meraih mimpi kami, dari lulusan MA Hasan Kafrawi, tak sedikit alumni yang melalang buana di kota sebrang (Semarang, Jogja, Jepara sendiri, Kudus, bahkan ada yang di Ibu kota). Berkat pengalaman di Ekstra itu kami berani mengejar mimpi yang sekilas kami tak sanggup untuk meraihnya, akan tetapi bagi kami tak ada yang tak mungkin.
Itulah kilas pandang tentang sekolah kami, tapi yang perlu kami sadari itu berlangsung kurang lebih 5 tahun yang lalu, MA Hasan Kafrawi sekarang sudah jauh berbeda, sekarang mempunyai bangunan sendiri, bahkan Yayasan Hasan kafrawi sekarang telah membuka lembaga baru yaitu SMK Hasan Kafrawi dengan jurusan Perangkat Lunak dan Keramik, sekarang 3 lembaga tersebut telah mempunyai bangunan tersendiri, dan tenaga pengajar yang sudah sesuai dengan harapan.
Meski kami sudah tidak bisa lagi satu tempat tapi, dalam hal kekompakkan kami tak pernah putus, demi kemajuan lembaga Hasan Kafrawi Pancur.
Semarang, 26 Februari 2010
Perlu diketahui bahwa –menurut pakar sejarah-, yang pertama kali mempelopori acara Maulid Nabi adalah Dinasti ‘Ubaidiyyun atau disebut juga Fatimiyyun (silsilah keturunan yang disandarkan pada Fatimah).
Asy-Syaikh Bakhit Al-Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam menyatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Maulid Nabi, Maulid Ali, Maulid Fatimah, Maulid Al-Hasan, Maulid Al-Husain radhiyallahu ‘anhum, dan Maulid Khalifah yang berkuasa saat itu, yaitu Al-Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari Dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.
Fatimiyyun yang Sebenarnya.
Ahmad bin Abdul Halim Al-Haroni Ad-Dimasyqi mengatakan “Perlu diketahui, para ulama telah sepakat bahwa Daulah Bani Umayyah, Bani Al-Abbas lebih dekat pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, lebih berilmu, lebih unggul dalam keimanan daripada Daulah Fatimiyyun. Dua daulah tadi lebih sedikit berbuat bid’ah dan maksiat daripada Daulah Fatimiyyun…Daulah Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak melakukan kemaksiatan) dan paling kufur.” (Majmu’ Fatawa, 35/127).
Seorang pakar sejarah yang bernama Al-Maqrizy juga menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalams setahun. Beliau menyebutkan kurang lebih ada 25 perayaan. Bahkan lebih parah lagi, mereka juga merayakan perayaan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani, yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al-Ghottos, hari Milad (hari Natal). Ini pertanda bahwa mereka jauh dari Islam.
Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani dalam kitabnya yang menyingkap tirai Bani ‘Ubaidiyyun, beliau menyebutkan bahwa Bani Fatimiyyun adalah keturunan Majusi. Cara beragama mereka lebih parah daripada Yahudi dan Nashrani. Bahkan yang paling ekstrim di antara mereka mengklaim Ali sebagai ‘Ilah (tuhan). Sungguh Bani Fatimiyyun ini lebih kufur daripada Yahudi dan Nashrani (Lihat Al Bida’ Al Hauliyah)
Inilah sejarah sejarah kelam dari Maulid Nabi. Dari penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa merayakan Maulid Nabi berarti telah mengikuti Daulah Fatimiyyun yang pertama kali memunculkan perayaan maulid. Dan ini berarti telah mengikuti tradisi orang-orang yang jauh dari Islam, dan telah menyerupai orang-orang yang fasik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Sikap Ahlu Sunnah Dalam Menyikapi Perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy-Syuqairy mengatakan, “Bulan Rabiul Awal ini tidaklah dikhususkan dengan shalat, dzikir, ibadah, nafkah, atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang didalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘Ied sebagaimana digariskan oleh syari’at…Bulan ini memang hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran sekaligus juga dengan hari kematiannya? Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah munkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.
Jika dalam maulid terdapat kebaikan, lalu mengapa perayaan ini tidak dilaksanakan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang-orang yang serakah pada makanan, orang-orang yang gemar menyia-nyiakan waktu dengan permainan, dan pengagung bid’ah.
Lantas, faedah apa yang bisa diperoleh? Pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan? (As-Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqah bil Adzkari wa Sholawat.
from: Kisah islam.com
Sekitar enam tahun, diri ini mengadu nasib di MA Hasan Kafrawi. Salah satu sekolah di Kecamatan Mayong yang berdiri kokoh di Desa Pancur. Semasa menuntut ilmu disana, tak sedikit cobaan yang ikut mendampingi langkah ku. Maklum sekolah yang belum mempunyai nama besar. Terkadang saya iri dengan sekolah-sekolah lain yang lebih maju dari sekolah ini, namun apa boleh buat, sekolah ini memang terbilang termurah di kecamatan ini.
Yang membuat diri ini betah sekolah disini, selain murah, aku tak merasa minder akan kondisiku yang serba sederhana dengan teman-teman ku. Karena manyoritas disini dari ekonomi yang pas-pasan alias kekurangan. Tapi terkadang ada sebagian dari teman kami yang sekolah dengan niatan "dari pada nganggur mending sekolah neng kene, orak ngentekno dunnyo", tapi bagi-ku itu hanya canda-tawa belaka. Kenyataannya mereka juga berfikir ketika akan menghadapi ujian.
Namun dibalik itu semua, aku sangat bersyukur bisa sekolah di sini. Karena sekolah disini, diri ini berubah total, cara berfikirku, sikapku, bahkan kepribadiankupun ikut berubah menjadi lebih baik. Dan semua itu tidak aku dapatkan dibangku sekolah (kelas), tapi malah lingkup organisasi. Dari organisasi itu, aku bias merasakan apa itu tanggung jawab, apa itu belajar, dan apa itu hidup.dari itu juga, aku bisa menjadi salah satu siswa yang dipercaya oleh banyak tegman, tidak hanya lingkup teman seperjuangan, tapi siswa sebelum dan sesudah periodeku pun ikut mempercayaiku dalah hal berorganisasi.
Sejak kelas dua aku mulai menyadari tentang bagaimana hidup, dan bertahan hidup. Dan mulai sejak itu, aku selalu berfikir bagaimana aku harus tetap hidup dalam lingkungan dunia belajar. Aku mempunyai keinginan, hidup ini saya selesaikan dalam dalam dunia belajar. Alhamdulillah sampai sekarang aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar. Aku berharap, semoga kesempatan ini tak hanya aku yang mengalami, akan tetapi teman-teman dan adik-adikku kelak bisa bisa mengikuti jalanku ini.
Meski tidak semua teman-temanku bisa mengalami nasib seperti yang aku alami, namun aku percaya itulah jalan terbaik yang dipilih Tuhan untuk kami.
Aku jadi teringat dengan pesan yang disampaikan oleh guru kami, bahwa hidup adalah sebuah proses. Mungkin dalam menafsirkan kata-kata itu banyak yang berbeda, akan tetapi dalam tafsiranku sendiri, bahwa broses disini bukan hanya proses dalam penantian, akan tetapi proses yang benar-benar kita niati, jalani, dan kita yakini.
Tak lupa, semua itu juga tak luput dari peran kakak alumni yang selalu menberikan dukungan dalam proses pendewasaan kami.
Adakalanya kita berdua sibuk menunggu titi mangsa
dengan takut hendak membuktikan sangkakala
oh…, aku takut mati beramai-ramai dalam takut
lalu sajak-sajak membuncah dari mulut dan mengutuk tangan-tangan
yang mandul serta gemar mengaku-aku sebagai ibu kandungnya
sekali ini saja kau sadar,
bahwa hidupmu bukan sekadar puisi ambigu
dan sekali waktu jika waktu telah benar-benar berhenti
ketika kau meratap-memaki hidupmu
lalu kau begitu ingin belajar kepada Yudas tentang penghianatan, seperti aku
tapi aku lebih mirip seperti pengecut yang selalu berlari
menuju mimpi dan ambisi yang biru
lantas menyempurnakan penyesalan-penyesalan
kenapa tak sadar juga jika yang aku tunggu selalu menyergap dari belakang?
aku takut… mungkin kau juga
jika sangkakala kita menyergap kita
saat kita tidak sedang menjadi manusia.
Tentang Kami
- Kampung Pancuran
- merupakan sebuah wadah silaturrahmi dan forum komunikasi keluarga besar hasan kafarwi, terutama alumni Hasan Kafrawi.
Dialog Interaktif


Lihat Daftar Isi !